TANGERANG SELATAN – Sebuah acara lari santai atau Fun Run yang digelar di wilayah Tangerang Selatan (Tangsel) mendadak viral di media sosial. Bukannya menuai pujian sebagai ajang olahraga sehat, acara ini justru dibanjiri protes keras dari ratusan peserta yang merasa kecewa dengan manajemen penyelenggara (Event Organizer/EO).
Keluhan para peserta mulai ramai diunggah di platform TikTok dan Instagram sejak akhir pekan lalu. Berbagai video menunjukkan antrean yang kacau, rute lari yang dinilai tidak steril, hingga masalah teknis terkait pembagian medali dan race pack.
Poin Utama Protes Peserta
Berdasarkan pantauan di lapangan dan komentar netizen, terdapat beberapa poin utama yang memicu kemarahan peserta:
-
Medali Tidak Tersedia: Banyak peserta yang telah mencapai garis finish tidak mendapatkan medali sesuai janji penyelenggara, dengan alasan stok habis padahal peserta sudah membayar pendaftaran penuh.
-
Manajemen Water Station yang Buruk: Peserta mengeluhkan kurangnya ketersediaan air minum di rute lari, yang dianggap membahayakan kesehatan pelari di tengah cuaca panas.
-
Rute yang Tidak Aman: Beberapa peserta menyebut rute lari masih dipenuhi kendaraan bermotor dan tidak ada pengamanan yang memadai dari pihak panitia.
-
Kualitas Jersey: Bahan baju lari atau jersey dianggap tidak sesuai dengan foto promosi dan harga yang telah dibayarkan.
Wawalkot Tangsel Pasang Badan
Menanggapi kegaduhan tersebut, Wakil Wali Kota Tangerang Selatan, Pilar Saga Ichsan, angkat bicara. Ia mengaku telah menerima banyak laporan dan keluhan langsung dari masyarakat melalui akun media sosial pribadinya.
Pilar menegaskan bahwa Pemerintah Kota Tangerang Selatan sangat menyayangkan ketidaksiapan pihak penyelenggara dalam mengelola acara yang melibatkan banyak massa tersebut.
“Kami sudah mendengar keluhan para peserta terkait pelaksanaan Fun Run tersebut. Saya tegaskan, pihak EO harus bertanggung jawab penuh atas segala kerugian dan kekecewaan para peserta,” ujar Pilar Saga Ichsan kepada awak media.
Lebih lanjut, Pilar meminta pihak EO segera melakukan klarifikasi dan memberikan kompensasi atau solusi konkret bagi peserta yang tidak mendapatkan hak-haknya, seperti pengiriman medali yang tertunda.
“Jangan sampai nama baik Kota Tangerang Selatan tercoreng karena ulah oknum EO yang tidak profesional. Kami akan mengevaluasi izin kegiatan-kegiatan serupa ke depannya agar standar penyelenggaraan acara di Tangsel tetap terjaga,” tambahnya.
Respons Pihak Penyelenggara
Hingga artikel ini diturunkan, pihak EO melalui akun Instagram resminya telah mengunggah permohonan maaf secara terbuka. Mereka berjanji akan bertanggung jawab dengan mengirimkan medali yang kurang ke alamat peserta masing-masing dalam waktu dekat.
Namun, unggahan tersebut justru terus mendapatkan komentar pedas dari netizen yang menuntut transparansi dan pengembalian uang (refund) sebagian karena layanan yang dianggap jauh dari standar.
Pelajaran bagi Penyelenggara Acara
Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi para pelaku industri event di Indonesia bahwa tren olahraga lari yang tengah meningkat harus dibarengi dengan manajemen yang profesional. Keamanan, kenyamanan, dan pemenuhan hak peserta adalah hal yang paling utama dalam menyelenggarakan acara olahraga publik.
Bagi warga Tangsel yang merasa dirugikan, Wawalkot menyarankan untuk tetap menyimpan bukti pendaftaran dan terus memantau kanal komunikasi resmi pihak penyelenggara untuk menagih janji pertanggungjawaban mereka.